Saturday, 17 September 2016

author photo
Photo net
PORTALTEBO.com - Seekor Gajah liar yang menghebohkan lantaran masuk perkebunan dan pemukiman masyarakat di daerah Tebo ulu sebenarnya sudah pernah trans lokasi ke daerah Tanjung Jabung Barat.

Namun paska itu, Seekor gajah jantan ini selalu balik ke daerah Tebo melalui kawasan hutan Bukit 30 yang mana dalam beberapa hari ini justru masuk ke jalan padang lama yang sudah dipadati oleh pemukiman.

Berdasarkan konfirmasi djambi.co ke pihak BKSDA Jambi hari ini (17/9), Diketahui bahwa memang ada seekor gajah jantan yang sedang bermasalah karena jalur yang biasa ia lalui dari Tanjab Barat melalui Bukit 30 ke Tebo, kini berubah arah ke selatan.

“Kita tetap memantau gajah tersebut, secara satelit kita punya gps solar di gajah itu, dan dilapangan kita juga mantau setiap harinya” terang Amenson, Seksi korservasi wilayah dua BKSDA Jambi yang meliputi daerah Tebo, Batang Hari, Kota Jambi, dan Muaro Jambi.

Hábitat Terganggu

Keluarnya gajah dari jalur biasanya memang tak bisa dipungkiri karena terjadinya perubahan fungsi terhadap hábitat mereka sebelumnya. Dari yang dulunya berupa hutan lebat sekarang sudah menjadi beberapa peruntukan seperti kawasan perkebunan, HTI, juga pertambangan.

“Gajah inikan dia akan kembali ke jalur yang pernah ia lewati, kalo sudah jadi pemukiman dia terpaksa cari arah lagi untuk kembali ke jalurnya” kata Amenson.

“Tapi yang satu ini memang bermasalah, kemarin sudah sampai ke wilayah Tanjab Barat. Nopember 2014 kita sudah trans lokasi ke Tebo dan balik lagi ke Tanjab Barat. Nah sekarang dia balik lagi ke Tebo tapi merubah jalur lebih ke selatan, Bolak balik nyebrang sungai, mengarah ke TKA, jalan padang lama yang kalo lurusnya bisa tembus ke Padang” lanjut Amenson.

Trans Lokasi

Sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan gajah yang satu ini, BKSDA Jambi sudah pernah membahas perihal ini dengan Pemda dan Perusahaan yang ada di wilayah setempat. Khususnya dalam rangka trans lokasi ke kawasan PT. REKI yang berada di Sarolangun.

“Tapi itu masih rencana, kita suda survei potensi (dulu) disana dan sekarang lagi dijalankan, Harus di kordinasikan dulu dengan pemerintah atau pemda setempat” ungkap Amenson.

Amenson melanjutkan, untuk trans lokasi biaya yang dibutuhkan menurutnya cukup besar, karena ahli untuk melakukan hal itu (ekport gajah) semua dari luar karena kita memang tidak punya, dan untuk upaya tersebut nanti pihaknya akan bekerjasama dengan para pihak, diantaranya perusahaan-perusahaan, LSM dan kalangan NGO. (Red/djambi.co) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement