Sunday, 24 July 2016

author photo
PORTALTEBO.com – Meski Rumah Pintar Sulthan Thaha Syaifudin (Rupin STS) Kabupaten Tebo yang dikelolah oleh Dinas Dikbudpora Tebo, telah berdiri sejak tahun 2014 yang lau, namun tidak banyak masyarakat sekitar yang mengetahui aktifitas Rupin tersebut. Bahkan, tidak sedikit masyarakat sekitar yang tidak mengetahui keberadaan rumah Pintar itu.

“Ndak tau bang dimana Rumah Pintar (Rupin). Dengarnya saja baru ini,” ujar Yanto saat ditanya alamat Rupin TST Tebo, Minggu (24/7/2016).

Saat beberapa awak media melakukan crosscek kelokasi, terlihat kondisi Rupin sepi. “Sering sepi bang. Kalupun ramai pas lagi ada kegiatan. Itupun jarang-jarang,” terang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi Rupin.

“Ya, kalau hari biasa paling ada satu atau tiga orang saja. Kalu ada kegiatan atau kunjungan, baru ramai. Ini saja sudah beberapa hari terlihat sepi,” ketusnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, keberadaan Rupin STS Tebo menuai kencaman dan keluhan dari orang tua anak. Pasalnya pengelolaan Rupin yang digunakan sebagai TPA tersebut dinilai tidak prosesional dan asal-asalan. Bahkan belakangan muncul isu jika Rupin sengaja diciptakan untuk mengeruk keuntungan pihak tertentu.

Wajar saja sejak berdiri dari 2014 hingga sekarang keberadaan Rupin belum menunjukan perbaikan yang signifikan. Program yang ditawarkanpun terkesan kamuflase dan hanya jalan ditempat. Entah disengaja ataupun tidak, jelas keberadaan Rupin tidak diketahui banyak orang seperti layaknya TPA.

Dede salah satu orang tua anak kepada PORTALTEBO.com mengungkapkan keluhan dan rasa kecewanya sejak putrinya dititipkan di Rupin tersebut. Pasalnya tidak ada perubahan yang ia lihat pada diri putrinya. Bahkan ia heran akhir-akhir ini putrinya takut dan selalu menangis jika akan dititipkan di Rupin itu.

“Saya heran padahal (Rupin'red) ini sudah lama berdiri, tapi kok sampai sekarang tidak ada kemajuan yang positif. Jangankan untuk memajukannya merubah fungsinya saja masih belum terlihat," ucapnya kesal.

Harusnya kata dia, jika serius ingin memajukan Rupin ya perlu pembenahan yang total. Mulai dari peningkatan SDM, peningkatan pelayanan, properti, serta promosi. “Saya lihat pengurusnya tidak ada yang tergerak untuk memajukan, malah sebaliknya terkesan cuek,” paparnya lagi.

Jika yang Dede contohkan tadi berjalan dan sudah teraplikasi, ia yakin bukan tidak mungkin keberadaan Rupin semakin banyak diketahui orang. Tidak sedikit pula para orang tua anak yang menitipkan putra dan putrinya. “Tapi kalau modelnya kayak gini terus, gimana mau maju. Orang tua juga pasti malas menitipkan anaknya,” sebutnya.

"Anak saya itu hobinya bermain, kalau lingkungannya ramai pasti anak saya betah. Nah ini sepi gimana anak mau betah," timpalnya lagi.

Yang lebih kesalnya lagi ketika bergantinya tahun ajaran baru bertepatan dengan libur panjang anak sekolah, ternyata Rupinpun ikut libur. Ia heran dan dan bertanya tanya sebenarnya status Rupin ini apa? "TPA atau sekolahan. Kalau Rupin itu sekolah yang punya agenda seperti dunia pendidikan saya sih tidak masalah. Lah ini TPA kok ikutan libur," terangnya lagi.

Iapun curiga dan menduga sudah banyak terjadi praktek praktek korupsi didalamnya. Untuk itu ia meminta pihak instansi terkait dan pemangku kepentingan baik penegak hukum atau lainnya untuk turun kelapangan melakukan kroscek.


"Saya minta instansi terkait lakukan kroscek, ada apa dengan Rupin ini," pungkasnya. (tim)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement