Monday, 20 June 2016

author photo
PORTALTEBO.com - Terkait rencana DPRD Tebo membuat panitia khusus (Pansus) terkait kematian Dian Reza Al Faruq, balita berusia 5 bulan yang diduga meninggal usai di imunisasi, mendapat sorotan dari Afriansyah ketua Gerakan Pemuda Tebo (GPT).

Afriansyah menilai, Pansus yang bakal dibentuk oleh dewan tersebut tidak bakal berjalan maksimal atau sesuai yang diharapkan. "Saya minta dewan jangan gampang buat Pansus. Harus ada skala prioritas masalah yang harus diselesaikan, "kata Afriansyah kepada PORTALTEBO.com, Senin (20/6/2016).

Lebih lanjut Afriansyah mengatakan, dewan telah membentuk dua Pansus, yaitu Pansus klinik kesehatan dan Pansus pasar. Dari dua Pansus yang dibentuk tersebut, kata dia, sampai saat ini belum ada hasilnya.

"Dua Pansus itu saja belum ada hasilnya. Kok ini malah mau buat Pansus baru lagi. Ini kan bisa masuk dalam pemborosan anggaran juga," tuntasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Dian Reza Al Faruq, balita berusia 5 bulan yang diduga meninggal usai di imunisasi, beberapa hari yang lalu, mendapat perhatian dari DPRD Tebo. Bahkan, dewan berencana membentuk panitia khusus untuk melakukan investigasi terkait kematian anak dari pasangan Rokhim dan Eka, warga Jalan Lawu Desa Sukamaju, Kecamatan Rimbo Ulu ini.

"Kita (DPRD Tebo) merespon positif peranan media dalam mempublikasikan peristiwa di daerah. Kita siap membentuk Pansus dan melakukan investigasi kebawah untuk mengungkap misteri kasus kematian balita tersebut, "ujar Syamsu Rizal Wakil DPRD Tebo.

Diketahui, petugas kesehatan Puskesmas Rimbo Ulu diduga lalai dalam melakukan penanganan medis terhadap Dian Reza Alfaruk. Akibatnya, balita berumur empat bulan buah hati pasangan Rokhim dan Eka ini, tewas setelah mendapatkan imunisasi DPT oleh Bides Sukamaju Kecamatan Rimbo Ulu.

Kronologis kejadian,pada Senin (13/6) korban dibawa orang tuanya posyandu di Jalan Lawu Desa Sukamaju. Setelah mendapatkan suntikan Imunisasi DPT oleh Bides bernama Rahma,setelah itu kondisi suhu badan korban naik atau mengalami panas tinggi yang tak kunjung reda.

Lalu,orang tua korban berinisiatif membawanya ke salah satu bidan terdekat. Namun bidan tersebut menyarankan kepada orang tua korban untuk merujuknya ke Rumah Sakit Muara Bungo.

Sesampainya di rumah sakit Bungo, korban langsung dirawat secara intensif. Sayangnya, karena korban sebelumnya mengalami muntah-muntah dan mengeluarkan cairan sangat banyak, nyawa korban pun tidak tertolong.

Sementara, keterangan dari Kepala Puskesmas Rimbo Ulu Unit IX dr Sanusi menyebutkan bahwa, sebelum diberi imunisasi, Dian Reza Alfaruk memilki riwayat kesehatan kelainan Jantung.

Hal itu dibantah oleh keluarga korban. Rochim melalui Kakenya Mbah Kardimin mengatakan jika cucunya itu tidak memiliki riwayat kelainan jantung. Tanda biru yang terdapat ditubuh korban adalah bawaan lahir. (tim) 

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement