Saturday, 18 June 2016

author photo
Apabila menelusuri sejarah melayu Jambi maka tidak lepas dari kehidupan berpolitik dan pemerintahan maupun ekonomi pada masa kerajaan. Bersumber dari berita china, pada abad ke 3 muncul dan berkembang tiga kerajaan di Jambi yaitu Kandali/kuntala (Tungkal), Tchu-po (Tebo), dan Ko-ying (Kerinci) yang berada di wilayah Teluk Wen lebih tua dari Kerajaan Kutai Kartanegara abad ke 4.

Disamping itu, dukungan sumber daya alam yang melimpah, menarik perhatian china untuk melakukan hubungan dagang dengan Jambi. Seperti salah satu yang diberitakan oleh K'ang-Tai dalam wu-shih-kuo-chuan, yang menceritakan bahwa raja koying menyukai kuda-kuda yang di impor oleh pedagang-pedagang Yue-chin. Selain itu, Kerajaan - kerajaan tersebut juga mengekspor batu permata, emas, perak, lada, kapur barus, dan buah pinang (areca nuts) ke China.

Dalam beberapa catatan diatas sejak abad ke 3 menandakan perdagangan di Jambi sudah berkembang pesat. Namun bagaimana dengan alat pembayaranya maupun pola perdagangan?

Untuk itu, disini kita perlu berselancar ke abad 17 - 18. Dalam artian kita melewati dari masa Melayu Kuno, Sriwijaya, Melayu Muda, dan menuju ke Kesultanan Melayu Jambi dikarenakan bukti alat pembayarannya masih dapat kita jumpai serta dipengaruhi oleh beberapa zaman.

AYAM KUMPEH

Yang dimaksud ayam kumpeh disini bukan bermakna binatang ayam namun Koin yang bergambar ayam (menghadap ke kiri) dan ditemukan oleh Bapak Mude di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Koin dengan gambar ayam menghadap ke kiri di buat di Singapore Merchant,1250/1804 ( token terlangka ) para kolektor beranggapan bahwa koin ayam yang menghadap ke kiri adalah koin ayam yang jarang sekali ditemukan.
Berdasarkan salah satu data tahun 2009, koin jenis United East Company, Singapore Merchant,1250 AH/1804 Masehi pernah terjual dengan harga US$ 325 (Grade Extremely Fine dengan satu keping koin East India Company. Selain itu, di bagian belakang koin tertulis bahasa Arab, ada perbedaan tahun yang sangat mencolok yaitu tahun tersebut bertuliskan langsung 1250H atau 1804M.
Hal itu membuktikan bahwa transaksi menggunakan uang gambar ayam menghadap ke kiri sangat terbatas.

AYAM TEBO

Koin bergambar ayam menghadap ke kanan ini ditemukan diwilayah Sumay Kabupaten Tebo.
Koin dengan gambar ayam menghadap ke kanan dibuat di Malacca British Administration, tahun 1211H atau tahun 1790M (Copper, KM# 8.1,Rooster). Sementara itu, digambar depan koin dengan gambar ayam jago dan kalo diperhatikan diatas ayam bertuliskan bahasa arab yaitu Tanah Malayu. Kemudian, dibagian belakang koin bertuliskan huruf/ aksara Arab "Malaka"serta dibagian bawahnya bertuliskan sepertinya tahun yakni 1211H.

Para peneliti beranggapan bahwa dimana ditemukan koin tersebut menandakan wilayah tersebut penting pada zaman dahulunya atau tempat pelabuhan. Jika kita melihat peta Provinsi Jambi maka akan segera tertarik dengan banyaknya sungai - sungai besar yang membentuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Hari.

Pada masa Melayu Muda tahun 1286 Kerajaan Melayu pindah ke Dharmasraya lalu tahun 1310 pindah ke Saruaso, DAS Batanghari Jambi merupakan kota pelabuhan yang sangat penting sekalipun ada dibawah pengawasan kerajaan melayu yang berpusat di pedalaman (Saruaso). Kedudukan Jambi penting sebagai tempat pengumpul barang - barang dari daerah pedalaman untuk dihubungkan dengan perdagangan internasional melalui Selat Malaka.

Menurut Tjandrasasmita "Pelabuhan di DAS Batang Hari seperti Muara Tebo, Muara Tembesi, Pelabuhan Dagang, dan tempat - tempat lainnya tidak dapat diabaikan sebagai tempat pengepul dari daerah pedalaman".

Sejak berdirinya Kerajaan Islam Perlak tahun 840 serta pesatnya perkembangan Islam di Nusantara. Pada abad ke 16 Kerajaan Demak berhasil menguasai daerah Jambi bahkan palembang. Seperti yang diberitakan oleh Tome Pires dalam Bukunya Suma Oriental yaitu "Tanah Jambi dibagian ujung masuk pada tanah tungkal dan dibagian lainnya tanah palembang, dibagian pedalaman dengan minangkabau, dan berhadap dengan jambi ialah pulau berhala. Negeri ini mempunyai raja. Hal itu sebagai Indragiri, dan setelah orang - orang muslim jawa mengambil palembang mereka juga mengambil Jambi, mereka tidak menyebutnya raja namun menyebutnya pate, yang di malaka disebut mandarin, dan kita governoor, dengan mempunyai kekuasaan pokok dalam bidang sipil dan kriminal terhadap rakyat di daerahnya"

Walaupun dibawah kekuasaan Kerajaan Demak, Jambi melakukan kegiatan sendiri dalam bidang perdagangan ke Malaka. Setelah pengaruh majapahit lenyap kemudian Islam masuk dan Jambi diperintah oleh Orang Kayo Hitam.

Sementara itu, masih dari berita Tome Pires tujuan Kerajaan Demak ingin menguasai Jambi adalah untuk menguasai perdagangan di Malaka. Kita perlu mengetahui bahwa pola perdagangan di Asia mengalami perubahan mendasar selama abad ke 10-13 termasuk di Asia Tenggara. Menurut Uli Kozok dalam bahasanya mengenai Kebangkitan Kerajaan Melayu menyatakan "Jumlah pedagang asing yang mendarat di Asia Tenggara meningkat mereka lebih menyukai membeli komoditi secara langsung dari pada bergantung pada suatu negeri".

Jauh sebelum itu, Malaka yang sempat dikuasai oleh Sriwijaya mendapat pukulan dahsyat dari dampak exspedisi militer dari Rajendra Cola yang memerintah kerajaan Koromandel di India tahun 1025.

Maka dari berbagai fakta diatas dapat disimpulkan bahwa sistem perdagangan tidak lepas dari peranan DAS Batang Hari, serta perkembangan perekonomian di Jambi tidak lepas dari pengaruh zaman hindu - budha dan Islam. Tidak mengherankan apabila dalam alat pembayaran berupa koin ada di pengaruhi oleh aksara arab, aksara jawi, dan bangsa belanda belanda serta terekam dengan jelas bagaimana budaya saat itu. Untuk mencegah kehilangan atau kemusnahan generasi muda perlu melakukan inventarisasi dan kodikologi mengingat Jambi pernah menjadi overlord kingdom.


Ditulis Oleh : Slamet Setya Budi Sekretaris PMI Kabupaten Tebo.
Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Muara Bungo

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement